SAAT WALI KOTA RAMAH TAMAH DENGAN SENIMAN, APA SAJA YANG DIBAHAS?

15 Apr 2019 0 comment

MAYANGAN – Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin dan Wawali Mochammad Soufis Subri ramah tamah dengan 100 seniman asal Kota Mangga, Senin (15/4) di Bromo Park Hotel. Dalam pertemuan tersebut, wali kota meminta para seniman tidak terbawa asumsi yang menyebutkan di era kepemimpinannya, para seniman bakal tak punya ruang untuk berkarya.

“Kalau ada shalawatan ya disambut dengan hadrah, ada tamu disambut dengan tarian. Jangan yang menjadi asumsi ini dikait-kaitkan. Ada tempatnya masing-masing sehingga semua sama-sama hidup, khususnya seni yang ada di Kota Probolinggo,” kata Habib Hadi.

“Jangan khawatir disingkirkan. Saya cinta pada seni. Kita taruh seni pada tempatnya yang sesuai supaya asumsi yang selama ini dikembangkan jangan sampai termakan (terpengaruh),” lanjutnya.

Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ujar Habib Hadi, semua even di Kota Probolinggo harus mengangkat potensi lokal. Wali kota ingin mengembangkan potensi yang ada di kota ini dengan mengajak para pelaku seni. Kota Probolinggo adalah kota yang luar biasa, di kota ini ada pelabuhan yang menjadi salah satu pintu wisatawan.

“Apa yang bisa disajikan? Ya kesenian lokal ini. Wisatawan tidak akan kembali kalau tidak ada daya tarik. Menciptakan ini tidak semudah apa yang disampaikan, harus ada aturannya,” imbuhnya.

IMG 4248Habib Hadi pun menegaskan, jika ia tidak alergi pada seni apapun. “Tetapi harus ada tempatnya. Jangan ada gesekan seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan seni dan budaya. Para seniman harus bisa memahami arah kebijakan pemerintah ke depan,” tutur mantan anggota DPR RI ini.

Intinya, setiap kegiatan pemerintah harus melibatkan kesenian lokal Kota Probolinggo. “Sudah clear tentang kegiatan pemerintah yang ada porsi masing-masing, tentunya saya tidak akan meng-anak tirikan kesenian yang ada,” ungkap Habib Hadi lagi.

Pokok pikiran dengan melibatkan masyarakat melalui pemerhati budaya, seniman yang punya kompetensi dan kredibilitas. Pokok pikiran tersebut sebagai identitas budaya, strategi budaya dan rencana induk kemajuan budaya.

Pelaku seni, Neri, menanyakan ke wali kota tentang adanya arahan khusus jika kostum penari harus berwarna hijau. Padahal mereka sebenarnya punya kostum sendiri sesuai dengan karakter tarian yang dibawakan.

Habib Hadi pun menjawab keresahan Neri. Katanya, jika memang tidak punya kostum lagi dan tidak ada waktu untuk membuat kostum, Neri diminta menjelaskan ke panitia bahwa ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat.

“Kalau mau warna kostum berbeda bilang ke panitianya suruh sampaikan jauh-jauh hari biar ada waktu untuk membuat. Tapi kalau tidak ada lagi, ya sudah disampaikan apa adanya. Warna tidak ada hak paten, sampaikan saja, panitia juga jangan menekan,” tegas wali kota dari partai yang berwarna hijau ini.

Pada kesempatan itu, wali kota juga menyinggung soal regenerasi seniman yang harus terus dilakukan demi pengembangan budaya di Kota Probolinggo. Di era Habib Hadi dan Subri, meminta masyarakat dan pelaku seni punya keinginan dalam membangun Kota Probolinggo.

Dalam 10 program prioritasnya, wali kota dan wawali meminta ada sisipan pelajaran muatan lokal. Hal ini sudah dilaksanakan oleh Disdikpora. Disbudpar sudah mengantongi sertifikasi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tentang Jaran Bodag.

“Kami sudah rapat dengan Dewan Kesenian Kota Probolinggo dan pelaku seni, bisa memasukkan kesenian Jaran Bodag jadi muatan lokal. Anak-anak kecil hingga dewasa membanggakan kesenian lokal aslinya. Bisa dipromosikan ke Jawa Timur atau nasional,” jelas Kepala Disbudpar Tutang Heru Aribowo.

Masuknya Kota Probolinggo sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), membuat Pemkot Probolinggo akan membangun gedung kesenian lebih representatif sebagai pusat kegiatan seni dan budaya. Taman budaya itu akan berada di kawasan antara kantor, museum dan membangun satu kawasan amphiteater.

Ramah tamah bersama pelaku seni ini dimoderatori oleh Ketua DKKPro Peni Priyono dan narasumber dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Sa’id. (famydecta/humas)


Sumber : https://humasprotokol.probolinggokota.go.id

probolinggokota.go.id Membangun Bersama Rakyat Untuk Kota Probolinggo Lebih Baik, Berkeadilan, Sejahtera, Transparan, Aman, dan Berkelanjutan

Twitter Kota Probolinggo

Dapatkan beragam info terbaru mengenai kondisi Kota Probolinggo terkini di https://t.co/0V3T6IOG0G
Presiden Umunkan Pembatalan 3.143 Perda Bermasalah - Berita - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia https://t.co/rFA3YE1wxa
Selamat di Akut Twitter Resmi Pemerintah Kota @pemkotprobku

Cuaca Kota Probolinggo

Hubungi Kami

 Pemerintah Kota Probolinggo: Jl. Panglima Sudirman No. 19, Kec. Kanigaran, Kota Probolinggo
Telp: 0335 - 421228
Fax: 0335 - 420155

For using special positions

Special positions are: sticky_left, sticky_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. For using this, please go to Module Manager and config your module to your desired position.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module (by postion: sticky_left/ stickey_right/ notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is using Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

E.g. Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'ico-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Brown Green Pink Violet
Layout Style
Select menu