• Banner1
  • Banner2
  • Banner3
  • Banner4
  • Banner5
  • banner6
  • banner7

PROBOLINGGO TEMPOE DOELOE LEBIH DIMINATI

IMG 20171129 WA0005

Nuansa jaman dulu (jadul) mewarnai kawasan Museum Probolinggo di Jalan Suroyo. Ada 30 stand berbentuk gubuk yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Sebuah inovasi, untuk menambah destinasi wisata di Kota Probolinggo dengan sajian Probolinggo tempo doeloe. Pertama kalinya di gelar Selasa (28/11) mendapat respon positif dari masyarakat. 

Sejarah kolonial itu diramu dengan sajian gambar maupun foto Probolinggo tempo dulu. Kemudian masing-masing gubuk dihias dengan berbagai pernak-pernik benda-benda antik, yang selama ini nyaris tak pernah dipertontonkan. 

Gubuk-gubuk dari rumbia itu berisi barang kuno seperti radio jadul, telpon kuno, buku, mesin cetak kuno, perangko hingga poster film dari zaman bahulea. Tak ketinggalan juga benda-benda budaya, suvenir bertema tradisional, mainan tradisional seperti dakon, bekel , lompat karet menghiasi sepanjang jalan museum Probolinggo.

Dalam acara pembukaan itu, juga disajikan musik tradisional dengan menggunakan lesung / ronjengan yang dimainkan oleh para lansia. Nenek-nenek sebanyak 8 orang itu memainkan alatnya dengan semangat, meski usianya berkisar 60 ke atas. Secara resmi dibuka oleh Asisten Administrasi dan Umum Rey Suwigtyo. 

Ia mengapresiasi upaya Disbudpar dalam mengembangkan destinasi wisata di daerah. “Antusias masyarakat dalam acara ini bagus. Mengingat tampilannya unik, kulinernya juga enak, murah dan permainan anak tradisional, semua dikemas seperti tempo dulu. Jika tadi diusulkan hingga 2 hari, saya ikut mendukung. Jika perlu nanti diperluas bukan hanya di sekitar museum saja dengan waktu yang lebih lama,” imbuhnya.

Dalam acara itu juga diserahkan hadiah bagi pemenang lomba sambelan tradisional dan penyajian kopi jadul. Rey Suwigtyo menyerahkan hadiah kepada Camat Mayangan Abas, sebagai pemenang lomba penyajian kopi jadul.  Kecamatan Mayangan menumbuk kopi dengan alat tradisional dari besi(sering disebut kentheng atau lumpang besi), lalu airnya dimasak dengan anglu serta arang sebagai bahan bakarnya. Aroma harum kopi memang berbeda, termasuk cangkir jadul sebagai tempat penyajiannya.

Begitu pula untuk lomba sambelan, dimenangkan oleh Kecamatan Kademangan. Pembuatan sambel dengan alat tradisional jadul termasuk penyajiannya. Camat Kademangan Pujo Satrio menerima hadiah tersebut dengan menggunakan kostum era kolonial Belanda.

Aneka kuliner jadul juga menjadi jujugan pengunjung. Selain harganya murah, beberapa kue dan makanan itu jarang ditemui di pasaran. Contohnya, lontong cecek, nasi bu’uk, kue lemet, iwel-iwel dan masih banyak lagi.

“Ini lontong cecek pas banget rasanya seperti makanan saya waktu kecil dulu. Harganya juga murah, hanya 5 ribu rupiah per porsi. Semoga nanti diagendakan lebih lama acara semacam ini, ada iringan lagu keroncong  dan campur sari. Tidak hingar bingar, jadi kita bisa menikmati,” ungkap Neri pengunjung berusia 50 an ini.(yul)

 

28 Nov 2017 0 comment  

IMG 20171129 WA0005

Nuansa jaman dulu (jadul) mewarnai kawasan Museum Probolinggo di Jalan Suroyo. Ada 30 stand berbentuk gubuk yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Sebuah inovasi, untuk menambah destinasi wisata di Kota Probolinggo dengan sajian Probolinggo tempo doeloe. Pertama kalinya di gelar Selasa (28/11) mendapat respon positif dari masyarakat. 

Sejarah kolonial itu diramu dengan sajian gambar maupun foto Probolinggo tempo dulu. Kemudian masing-masing gubuk dihias dengan berbagai pernak-pernik benda-benda antik, yang selama ini nyaris tak pernah dipertontonkan. 

Gubuk-gubuk dari rumbia itu berisi barang kuno seperti radio jadul, telpon kuno, buku, mesin cetak kuno, perangko hingga poster film dari zaman bahulea. Tak ketinggalan juga benda-benda budaya, suvenir bertema tradisional, mainan tradisional seperti dakon, bekel , lompat karet menghiasi sepanjang jalan museum Probolinggo.

Dalam acara pembukaan itu, juga disajikan musik tradisional dengan menggunakan lesung / ronjengan yang dimainkan oleh para lansia. Nenek-nenek sebanyak 8 orang itu memainkan alatnya dengan semangat, meski usianya berkisar 60 ke atas. Secara resmi dibuka oleh Asisten Administrasi dan Umum Rey Suwigtyo. 

Ia mengapresiasi upaya Disbudpar dalam mengembangkan destinasi wisata di daerah. “Antusias masyarakat dalam acara ini bagus. Mengingat tampilannya unik, kulinernya juga enak, murah dan permainan anak tradisional, semua dikemas seperti tempo dulu. Jika tadi diusulkan hingga 2 hari, saya ikut mendukung. Jika perlu nanti diperluas bukan hanya di sekitar museum saja dengan waktu yang lebih lama,” imbuhnya.

Dalam acara itu juga diserahkan hadiah bagi pemenang lomba sambelan tradisional dan penyajian kopi jadul. Rey Suwigtyo menyerahkan hadiah kepada Camat Mayangan Abas, sebagai pemenang lomba penyajian kopi jadul.  Kecamatan Mayangan menumbuk kopi dengan alat tradisional dari besi(sering disebut kentheng atau lumpang besi), lalu airnya dimasak dengan anglu serta arang sebagai bahan bakarnya. Aroma harum kopi memang berbeda, termasuk cangkir jadul sebagai tempat penyajiannya.

Begitu pula untuk lomba sambelan, dimenangkan oleh Kecamatan Kademangan. Pembuatan sambel dengan alat tradisional jadul termasuk penyajiannya. Camat Kademangan Pujo Satrio menerima hadiah tersebut dengan menggunakan kostum era kolonial Belanda.

Aneka kuliner jadul juga menjadi jujugan pengunjung. Selain harganya murah, beberapa kue dan makanan itu jarang ditemui di pasaran. Contohnya, lontong cecek, nasi bu’uk, kue lemet, iwel-iwel dan masih banyak lagi.

“Ini lontong cecek pas banget rasanya seperti makanan saya waktu kecil dulu. Harganya juga murah, hanya 5 ribu rupiah per porsi. Semoga nanti diagendakan lebih lama acara semacam ini, ada iringan lagu keroncong  dan campur sari. Tidak hingar bingar, jadi kita bisa menikmati,” ungkap Neri pengunjung berusia 50 an ini.(yul)

 

probolinggokota.go.id Menuju Probolinggo Kota Jasa Berwawasan Lingkungan Yang Maju, Sejahtera dan Berkeadilan

Twitter Kota Probolinggo

Dapatkan beragam info terbaru mengenai kondisi Kota Probolinggo terkini di https://t.co/0V3T6IOG0G
Presiden Umunkan Pembatalan 3.143 Perda Bermasalah - Berita - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia https://t.co/rFA3YE1wxa
Selamat di Akut Twitter Resmi Pemerintah Kota @pemkotprobku

Cuaca Kota Probolinggo

SP_WEATHER_BREEZY

29°C

Probolinggo

SP_WEATHER_BREEZY
Humidity: 62%
Wind: S at 56.33 km/h
Sunday
Mostly cloudy
25°C / 31°C
Monday
SP_WEATHER_BREEZY
26°C / 33°C
Tuesday
Partly cloudy
26°C / 32°C
Wednesday
Partly cloudy
26°C / 33°C

Hubungi Kami

 Pemerintah Kota Probolinggo: Jl. Panglima Sudirman No. 19, Kec. Kanigaran, Kota Probolinggo
Telp: 0335 - 421228
Fax: 0335 - 420155

For using special positions

Special positions are: sticky_left, sticky_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. For using this, please go to Module Manager and config your module to your desired position.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module (by postion: sticky_left/ stickey_right/ notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is using Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

E.g. Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'ico-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Brown Green Pink Violet
Layout Style
Select menu