• Banner1
  • Banner2
  • Banner3
  • Banner4
  • Banner5
  • banner6
  • banner7

Larung Sesaji Bumi, Selamatan Bumi

2016 Oktober Larung

 

Selamatan Suran dan Arakan Budaya Spiritual Larung Sesaji yang rutin dilaksanakan setiap Tahun Baru 1 Muharram 1438 H atau 1 Suro 1950 JE di tahun 2016 di kota Probolinggo kembali dilaksanakan. Bertempat di Pelabuhan Perikanan Pantai Indonesia pada hari Kamis (6/10) siang.

Dinas Pemuda Olah raga Budaya dan Pariwisata (Dispobpar), dalam pelaksanaanya kembali menggandeng Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo, yang bermarkas di Jalan. Ir. H.Juanda No 27 kota Probolinggo.

Bertindak sebagai Ketua Panitia, Endro Hadi, dalam penyampaian laporannya menjelaskan maksud kegiatan tersebut adalah dalam rangka melestarikan budaya luhur dan Pariwisata Nusantara. Sebab, kebuayaan merupakan aset kekuatan jati diri bangsa Indonesia. Melalui wacana “Wisata Budaya Nusantara” maka perlu ditumbuh kembangkan budaya kearifan lokal.

Endro juga menyampaikan, bahwa Larung Sesaji adalah simbol budaya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya. Dengan telah diciptakan alam semesta yang telah memberikan hasil bumi maupun laut. Sehingga manusia dapat tercukupi kebutuhan hidupnya.

Endro menyerukan bahwa bentuk rasa Syukur tidak hanya berdoa, tetapi diungkapkan dengan cara simbolis atau penyerahan sedekah bumi, hasil bumi, hasil usaha, hasil perikanan dan lain sebagainya.

Prosesi sakral larung sesaji bumi bertujuan untuk menghindarkan berbagai Sukerta, Kala, Wabah, tolak Bala, Sengkala, atau biasa disebut hal-hal negatif yang dapat melanda kota Probolinggo.

Kegiatan siang itu dihadiri oleh Staff Ahli Walikota Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kepala UPT PP Mayangan, Satkam Ladu serta sejumlah undangan tokoh masyarakat setempat. Asisten Didik Sudiknyo, menyampaikan bahwa kegiatan selamatan suran larung sesaji bumi, sebagai sikap kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral serta rasa syukur kepada Tuhan. Dengan adanya unsure alam Agni (api) Bayu (angin) Her (air) Bantala (bumi) sebagai sumber kehidupan umat manusia.

Didik juga berharap agar masyarakat dapat lebih mengenal warisan budaya sekaligus melestarikannya. Selain itu juga, kegiatan ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung di kota. Nantinya dapat berdampak pada sektor ekonomi yang akan meningkatkan kesejateraan bagi masyarakat.

“Semoga Gusti Kang Murbeng Dumadi, Tuhan Yang Maha Esa berkenan mengampuni segala dosa. Memberikan anugerah berkah, keseimbangan alam, yang dapat menyejahterakan kehidupan umat manusia”, ucap pria yang pernah menjabat sebagai kepala DKP ini saat mengakhiri sambutan.

Selanjutnya, Upacara Sakral Larung Sesaji Bumi dilakukan di hadapan para undangan. Seluruh sesajian yang telah disiapkan, di tata di atas karpet merah yang berada di bawah tenda. sesajian berupa hasil bumi, laut, ternak, pakaian, tumpeng, dan kepala Sapi beserta sebaskom darah sapi segar, kue, dibacakan doa khusus oleh pinisepuh Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo, Ki Guco Suripono. Saat memimpin upacara beliau menjelaskan satu persatu jenis sesajian dan makna masing masing sesaji tersebut.

Setelah prosesi doa bersama, seluruh sesaji tersebut diletakkan di atas perahu tanpa awak untuk dibawa atau dilarung ke tengah laut. Prosesi larung sesaji ditandai dengan pelepasan burung merpati oleh Staf Ahli beserta undangan lainnya.

Sekilas Informasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Larung artinya membiarkan hanyut, menghanyutkan. Sedangkan kata Sesaji berasal dari kata Saji yang artinya mempersembahkan sajian berupa makanan dan benda lain dalam upaca keagamaan yang dilakukan secara simbolis. Maka, arti Larung Sesaji adalah menghanyutkan persembahan berupa makanan atau benda lain dalam upaca keagamaan yang dilakukan secara simbolis.(oke)

07 Oct 2016 80870 comments  

2016 Oktober Larung

 

Selamatan Suran dan Arakan Budaya Spiritual Larung Sesaji yang rutin dilaksanakan setiap Tahun Baru 1 Muharram 1438 H atau 1 Suro 1950 JE di tahun 2016 di kota Probolinggo kembali dilaksanakan. Bertempat di Pelabuhan Perikanan Pantai Indonesia pada hari Kamis (6/10) siang.

Dinas Pemuda Olah raga Budaya dan Pariwisata (Dispobpar), dalam pelaksanaanya kembali menggandeng Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo, yang bermarkas di Jalan. Ir. H.Juanda No 27 kota Probolinggo.

Bertindak sebagai Ketua Panitia, Endro Hadi, dalam penyampaian laporannya menjelaskan maksud kegiatan tersebut adalah dalam rangka melestarikan budaya luhur dan Pariwisata Nusantara. Sebab, kebuayaan merupakan aset kekuatan jati diri bangsa Indonesia. Melalui wacana “Wisata Budaya Nusantara” maka perlu ditumbuh kembangkan budaya kearifan lokal.

Endro juga menyampaikan, bahwa Larung Sesaji adalah simbol budaya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya. Dengan telah diciptakan alam semesta yang telah memberikan hasil bumi maupun laut. Sehingga manusia dapat tercukupi kebutuhan hidupnya.

Endro menyerukan bahwa bentuk rasa Syukur tidak hanya berdoa, tetapi diungkapkan dengan cara simbolis atau penyerahan sedekah bumi, hasil bumi, hasil usaha, hasil perikanan dan lain sebagainya.

Prosesi sakral larung sesaji bumi bertujuan untuk menghindarkan berbagai Sukerta, Kala, Wabah, tolak Bala, Sengkala, atau biasa disebut hal-hal negatif yang dapat melanda kota Probolinggo.

Kegiatan siang itu dihadiri oleh Staff Ahli Walikota Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kepala UPT PP Mayangan, Satkam Ladu serta sejumlah undangan tokoh masyarakat setempat. Asisten Didik Sudiknyo, menyampaikan bahwa kegiatan selamatan suran larung sesaji bumi, sebagai sikap kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral serta rasa syukur kepada Tuhan. Dengan adanya unsure alam Agni (api) Bayu (angin) Her (air) Bantala (bumi) sebagai sumber kehidupan umat manusia.

Didik juga berharap agar masyarakat dapat lebih mengenal warisan budaya sekaligus melestarikannya. Selain itu juga, kegiatan ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung di kota. Nantinya dapat berdampak pada sektor ekonomi yang akan meningkatkan kesejateraan bagi masyarakat.

“Semoga Gusti Kang Murbeng Dumadi, Tuhan Yang Maha Esa berkenan mengampuni segala dosa. Memberikan anugerah berkah, keseimbangan alam, yang dapat menyejahterakan kehidupan umat manusia”, ucap pria yang pernah menjabat sebagai kepala DKP ini saat mengakhiri sambutan.

Selanjutnya, Upacara Sakral Larung Sesaji Bumi dilakukan di hadapan para undangan. Seluruh sesajian yang telah disiapkan, di tata di atas karpet merah yang berada di bawah tenda. sesajian berupa hasil bumi, laut, ternak, pakaian, tumpeng, dan kepala Sapi beserta sebaskom darah sapi segar, kue, dibacakan doa khusus oleh pinisepuh Pirukunan Purwo Ayu Mardi Utomo, Ki Guco Suripono. Saat memimpin upacara beliau menjelaskan satu persatu jenis sesajian dan makna masing masing sesaji tersebut.

Setelah prosesi doa bersama, seluruh sesaji tersebut diletakkan di atas perahu tanpa awak untuk dibawa atau dilarung ke tengah laut. Prosesi larung sesaji ditandai dengan pelepasan burung merpati oleh Staf Ahli beserta undangan lainnya.

Sekilas Informasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Larung artinya membiarkan hanyut, menghanyutkan. Sedangkan kata Sesaji berasal dari kata Saji yang artinya mempersembahkan sajian berupa makanan dan benda lain dalam upaca keagamaan yang dilakukan secara simbolis. Maka, arti Larung Sesaji adalah menghanyutkan persembahan berupa makanan atau benda lain dalam upaca keagamaan yang dilakukan secara simbolis.(oke)

80870 comments

Leave a comment

probolinggokota.go.id Menuju Probolinggo Kota Jasa Berwawasan Lingkungan Yang Maju, Sejahtera dan Berkeadilan

Twitter Kota Probolinggo

Dapatkan beragam info terbaru mengenai kondisi Kota Probolinggo terkini di https://t.co/0V3T6IOG0G
Presiden Umunkan Pembatalan 3.143 Perda Bermasalah - Berita - Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia https://t.co/rFA3YE1wxa
Selamat di Akut Twitter Resmi Pemerintah Kota @pemkotprobku

Cuaca Kota Probolinggo

Cloudy

26°C

Probolinggo

Cloudy
Humidity: 75%
Wind: S at 22.53 km/h
Saturday
Scattered thunderstorms
26°C / 30°C
Sunday
SP_WEATHER_BREEZY
26°C / 31°C
Monday
Mostly cloudy
26°C / 31°C
Tuesday
SP_WEATHER_BREEZY
26°C / 31°C

Hubungi Kami

 Pemerintah Kota Probolinggo: Jl. Panglima Sudirman No. 19, Kec. Kanigaran, Kota Probolinggo
T: 0335 - 421228
F: 0335 - 421228

For using special positions

Special positions are: sticky_left, sticky_right, notice, tool_bottom. You can use them for any module type. For using this, please go to Module Manager and config your module to your desired position.

You can disable by:

  • Go to Administrator » Template Manager » Your_Template » Tab: Advanced » Use special positions » select: No for all special positions
  • Go to Administrator » Module magager » Your_Module (by postion: sticky_left/ stickey_right/ notice/tool_bottom) » Status: Unpublish for that module

For customize module in special position

The solution is using Module Class Suffix. You can customize button, module content follow Module Class Suffix

E.g. Module Class Suffix: bg-white @bullhorn then:
- Class of buttom is 'ico-bullhorn'. If without @... the default is 'icon-pushpin'
- Class of module is 'bg-white'

Template Settings

Color

For each color, the params below will give default values
Blue Brown Green Pink Violet
Layout Style
Select menu